Cahaya hijau di langit Menoreh, ini penjelasan BRIN

  • Whatsapp
Penampakam warna kehijauan di langit perbukitan Menoreh Jawa Tengah.(Foto: Instagram/@jhodytography)(wartaberitaindonesia.com)

wartaberitaindonesia.com – Fenomena munculnya pendar warna kehijauan di langit perbukitan Menoreh di wilayah Jawa Tengah karena adanya gelombang gravitasi atmosfer.

Hal itu dikatakan Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin.

Bacaan Lainnya

“Langit glowing
(berpendar) dicirikan oleh warna kehijauan pada langit di malam hari yang terjadi karena keberadaan gelombang gravitasi atmosfer,” kata Erma
sebagaimana dikutip dalam siaran pers LAPAN yang diterima di Jakarta, Senin (4/10).

Erma menjelaskan, gelombang gravitasi atmosfer adalah gelombang gravitasi yang terdapat di atmosfer dengan skala planet yang dapat terbentuk karena suatu gangguan di atmosfer pada suatu lokasi tertentu sehingga mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer, mulai dari permukaan hingga lapisan yang paling tinggi di atmosfer seperti mesosfer.

Gangguan di atmosfer permukaan atau lapisan troposfer yang dapat membangkitkan gelombang gravitasi atmosfer adalah aktivitas konvektif yang menghasilkan awan konveksi yang tinggi.

Selain itu, Erma
mengemukakan kemungkinan kaitan kemunculan pendar berwarna hijau di langit Menoreh dengan aktivitas badai skala meso yang mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer sehingga membentuk gelombang gravitasi atmosfer (GGA).

Hasil pengamatan terhadap data dari
Satellite-Based Disaster Early Warning System
(SADEWA) BRIN menunjukkan bahwa badai skala meso yang kuat dan meluas terbentuk di atas lautan sekitar 200 kilometer dari lokasi, yakni di Selat Karimata, sebelah barat Kalimantan.

Badai skala meso tersebut sepanjang hari bergerak seperti pendulum, terbentuk di Sumatera
pada pagi hari lalu menuju timur ke arah Kalimantan
dan melintasi laut Tiongkok Selatan hingga sore hari.

Pada malam hari, badai itu bergerak kembali dari Kalimantan menuju ke laut dan menetap di sana hingga tengah malam.

“Aktivitas badai skala meso yang bergerak bolak-balik seperti pendulum ini kemungkinan yang telah menjadi pengganggu bagi lapisan-lapisan di atmosfer sehingga terbentuklah GGA yang sangat kuat dan penampakannya dapat dilihat di suatu lokasi di Jawa Tengah,” kata Erma.

Ia mengemukakan, hasil pengamatan citra pada langit yang berpendar
seharusnya dapat dikumpulkan dari berbagai arah atau sudut sehingga terbentuk citra langit berpendar yang lengkap sebagaimana yang dilaporkan oleh Smith dan rekannya pada 2020 di Argentina.

Laporan ilmiah berkaitan dengan pendar langit di Argentina telah diterbitkan oleh American Geophysical Union dalam Journal of the Geophyisical Research Atmosphere pada 16 November 2020.

Menurut laporan tersebut, fenomena langit berpendar yang dapat dilihat oleh mata telanjang terjadi di Argentina, Amerika Selatan, pada 17 Maret 2020.

Laporan itu menyebutkan bahwa gelombang gravitasi atmosfer yang tampak berwarna kehijauan berkaitan dengan aktivitas badai skala meso yang terjadi sekitar 100 kilometer dari tempat langit yang berpendar dapat diamati dengan mata telanjang.
 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *