Sampah plastik dari belanja online meningkat sebesar 96 persen

  • Whatsapp
Ilustrasi sampah plastik.(Foto: Pixabay)(wartaberitaindonesia.com)

wartaberitaindonesia.com – Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 salah satunya berdampak pada frekuensi belanja secara daring makin tinggi, sehingga polusi sampah plastik menjadi isu yang dihadapi oleh semua orang, termasuk di Indonesia.

Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan, sampah plastik dari belanja online meningkat sebesar 96 persen.

Bacaan Lainnya

Hal itu terjadi karena adanya peningkatan transaksi sebesar 62 persen pada sektor marketplace dan 47 persen pada sektor jasa antar makanan.

Upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai (PSP) dalam kehidupan sehari-hari termasuk dari kegiatan belanja saat ini menghadapi tantangan dari konsumen yang dinilai belum merasa nyaman meninggalkan produk polimerisasi sintetik itu.

Research Associate Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Bisuk Abraham Sisungkunon mengatakan, dalam beberapa diskusi, ditemukan kenyataan upaya pelaku usaha berhemat konten plastik dalam pengiriman produk justru berbuah komplain dari konsumen.

Menurut Bisuk, konsumen merasa produk yang diterima kurang aman tanpa ada lapisan plastik yang membungkus kemasan.

Pada beberapa kasus ekstrem, mereka yang berbelanja secara daring bahkan langsung memberi rating satu pada toko yang tidak mengemas barang menggunakan plastik.

“Cukup banyak konsumen merasa kurang aman kalau produk tidak dibungkus plastik lagi, walau disediakan kotak-kotak yang berbahan seperti karton,” kata dia dalam talkshow bertajuk Pawai Bebas Plastik 2021 yang digelar secara daring, Kamis (7/10).

Di sisi lain, Bisuk melihat sebenarnya adanya kemauan dari para pelaku usaha mengurangi penggunaan PSP karena ternyata upaya ini dinilai tak terlalu berdampak signifikan pada biaya produksi mereka.

Hasil survei yang dia lakukan melibatkan 88 pelaku usaha dari tiga sektor yakni manufaktur, perdagangan besar dan eceran serta makanan dan minuman di DKI Jakarta pada Mei 2021 menunjukkan sebanyak 43 persen dari mereka merasa pengurangan atau penanganan PSP masih dalam batas toleransi sehingga ada kesempatan untuk melakukan pengurangan maupun penanganan PSP.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *