Tim Pengabdi Kenalkan Pewarnaan Alami dan Ecoprint ke Perajin Tenun di Manurung

Teks foto : Tim Pengabdi mendampingi perajin tenun Desa Manurung dalam mempraktikkan proses pengolahan limbah ramah lingkungan guna mendukung produksi tenun berkelanjutan. (Foto: Istimewa)

Akademisi ULM dan UNISM menggelar program pemberdayaan pengrajin tenun di Desa Manurung melalui pewarnaan alami dan ecoprinting.

Tanah Bumbu, wartaberitaindonesia.com

Bacaan Lainnya

Tim pengabdi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Universitas Sari Mulia (UNISM) terus mendorong industri tenun lokal yang produktif dan ramah lingkungan di Desa Manurung, Kecamatan Kusan Tengah, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Melalui program pemberdayaan, para perajin kini tidak hanya fokus meningkatkan produksi. Mereka juga mulai bermigrasi ke proses penenunan buatan yang berkelanjutan.

Dua kelompok lokal menjadi motor penggerak transformasi ini. Kelompok tersebut adalah Kelompok Tenun Mandiri pimpinan Abd. Aziz dan Generasi Tenun Pagatan pimpinan Bahruddin. Keduanya mendapatkan pendampingan intensif untuk meningkatkan kapasitas usaha tenun mereka.

Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (Pemberdayaan Desa Binaan) Tahun 2026. Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendanai kegiatan ini (No. Kontrak Induk: 157/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Kontrak Turunan: 280/UN8.2/AM/2026).

Salah satu pilar utama program ini adalah peningkatan kesadaran terhadap pengelolaan limbah tenun. Selama ini, sisa zat pewarna sintesis berpotensi mencemari lingkungan jika tanpa penanganan yang benar. Melalui edukasi ini, tim membekali kelompok penenun keterampilan mengolah limbah agar sisa produksi tetap aman bagi ekosistem desa.

Sebagai solusi jangka panjang, tim pengabdi mengenalkan teknik pewarnaan alami. Penggunaan bahan baku alam ini membuka peluang pasar baru. Hal itu karena bahan alam menghasilkan karakter warna yang unik, etnik, sekaligus mendukung konsep sustainable fashion.

Tak hanya pewarnaan alami, para perajin juga mempelajari teknik ecoprinting. Metode ini memanfaatkan cetakan bentuk dan pigmen warna asli dari daun atau tanaman ke atas kain. Keterampilan baru ini akan mendorong diversifikasi produk, sehingga perajin tidak lagi bergantung pada motif tenun konvensional.

Langkah inovatif ini sukses membuahkan hasil nyata pada peningkatan kapasitas SDM perajin. Pada Kelompok Tenun Mandiri misalnya, anggota yang terampil mengolah sampah naik dari tidak ada pada tahun 2025 menjadi 4 orang di tahun 2026. Selain itu, perajin yang menguasai teknik pewarnaan alami dan ecoprinting juga melonjak dari semula hanya 1 orang kini menjadi 4 orang.

Tim pelaksana dari ULM dan UNISM berharap, para perajin yang telah mahir dapat menjadi mentor bagi anggota kelompok lainnya. Melalui transfer ilmu yang berkelanjutan, kelompok tenun di Desa Manurung bisa mandiri secara ekonomi. Mereka juga dapat menjadi pelopor industri kreatif berbasis kearifan lokal yang ramah lingkungan.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *