DPRD Kalsel Minta Pemkab Batola Ambil Langkah Konkret Atasi Gagal Panen

Teks foto : Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan Fraksi PKS, H. Taufik Rahman, SH. (Foto: Ist)
Anggota DPRD Kalsel Taufik Rahman mendesak Pemkab Batola mengambil langkah konkret, termasuk bantuan benih dan asuransi, untuk atasi gagal panen.

Banjarmasin, wartaberitaindonesia.com– Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dari Fraksi PKS, H. Taufik Rahman, SH, meminta Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Pemkab Batola) segera mengambil langkah nyata mengatasi gagal panen di sejumlah wilayah. Menurutnya, penanganan tidak boleh mandek pada pemberian bantuan sosial (bansos) saja, melainkan harus menyeluruh agar petani bisa cepat bangkit.

 

Bacaan Lainnya

“Kami berharap ada upaya nyata dan konkret dari Pemerintah Kabupaten Barito Kuala melihat situasi gagal panen ini. Dampaknya sangat terasa bagi petani dan berpotensi memicu fluktuasi harga pangan ke depan,” ujar Taufik di Banjarmasin.

 

Ia menilai penanganan dampak gagal panen ini harus melalui tiga tahapan utama: penanganan darurat, pemulihan, dan pencegahan.

 

Sebagai langkah awal, Pemkab Batola didesak melakukan pendataan cepat terkait luas lahan yang terdampak dan jumlah petani yang merugi. Penetapan status kejadian juga penting dilakukan agar proses birokrasi penanganan bisa berjalan lebih cepat.

 

Pada tahap pemulihan, pemerintah diharapkan segera menyalurkan bantuan logistik pertanian. Bantuan tersebut meliputi benih padi, pupuk, pestisida, alat pertanian, hingga bantuan tunai atau subsidi bagi petani yang kehilangan mata pencaharian.

 

“Optimalisasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) juga dinilai penting agar petani segera memperoleh klaim dan perlindungan pada musim tanam berikutnya,” tambahnya.

 

Taufik juga mendorong perbaikan infrastruktur pertanian di Batola. Beberapa langkah yang diusulkan antara lain normalisasi saluran irigasi dan drainase, perbaikan pintu air di kawasan rawa pasang surut, serta pembangunan embung dan pompa air untuk mengantisipasi banjir maupun kekeringan.

 

Selain infrastruktur, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) harus diperkuat melalui gerakan pengendalian hama terpadu, pendampingan intensif dari penyuluh pertanian, dan penyediaan pestisida tepat sasaran.

 

Taufik menjelaskan, salah satu ancaman utama yang wajib diwaspadai saat ini adalah penyakit tungro. Penyakit virus yang ditularkan oleh wereng hijau ini menyebabkan daun menguning, tanaman kerdil, dan bulir padi kopong, sehingga memicu penurunan produksi secara drastis.

 

Selain tungro, gagal panen di lapangan juga kerap dipicu oleh banjir, kekeringan, serangan wereng batang cokelat, hama tikus, hingga penyakit hawar daun bakteri.

 

Sebagai salah satu lumbung padi utama di Kalimantan Selatan, Batola dinilai memerlukan strategi jangka panjang. Taufik menekankan pentingnya modernisasi pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi, penguatan penyuluhan, pemanfaatan teknologi informasi cuaca, serta perlindungan lahan pertanian secara berkelanjutan.

 

“Langkah-langkah strategis ini diharapkan mampu menjaga produktivitas petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim,” pungkasnya.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *