Banjarmasin, wartaberitaindonesia.com – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dari Fraksi Demokrat Persatuan Perjuangan (DPP), Sadam Husein Naparin, SH , menegaskan bahwa fenomena kematian massal ikan di Sungai Barito murni disebabkan oleh faktor alam. Ia membantah isu yang menyebut peristiwa tersebut akibat pencemaran zat kimia atau aktivitas perkebunan kelapa sawit.
Berdasarkan analisis lapangan dan mitigasi awal laporan kualitas air, Sadam menjelaskan bahwa pemeriksaan sementara menunjukkan adanya intrusi air dengan kadar pH yang melonjak tajam. Hal ini dipicu oleh kiriman banjir rob dari wilayah Hulu Sungai beberapa waktu lalu.
“Ini murni faktor alami, bukan karena zat kimia berbahaya. Perubahan kualitas air secara mendadak berdampak langsung pada ekosistem sungai sehingga menyebabkan stres lingkungan pada biota air,” ujar Sadam dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
Menanggapi kekhawatiran warga Kabupaten Barito Kuala terkait kualitas air PDAM, Sadam memastikan pasokan air masih layak digunakan untuk kebutuhan sanitasi rumah tangga, seperti mandi dan mencuci. Namun, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsinya secara langsung.
“Untuk konsumsi, air harus dimasak terlebih dahulu karena sistem pengolahan kita masih memerlukan teknologi yang lebih modern,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa air baku PDAM Barito Kuala bersumber dari Sungai Martapura, serupa dengan sumber air untuk wilayah Banjarmasin dan Banjarbaru.
Terkait laporan adanya kematian predator seperti buaya, Sadam kembali menegaskan bahwa hal itu merupakan dampak dari perubahan kualitas air yang ekstrem dan tiba-tiba, bukan karena keracunan limbah kimia.
Sebagai langkah tindak lanjut, Dinas Kesehatan melalui Tim P2P Puskesmas Barambai telah mengambil sampel air di empat titik strategis di Sungai Barito pada Sabtu (24/1/2026). Hasil uji laboratorium dari sampel tersebut akan menjadi dasar penyelidikan lanjutan untuk memastikan kondisi lingkungan secara menyeluruh.






