Banjarmasin,wartaberitaindonesia.com– Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Selatan (Kanwil DJBC Kalbagsel) gelar coffee morning bersama pengusaha penerima fasilitas kawasan Berikat di wilayah Kalselteng, Rabu (08/03) kemarin.
Dengan tema “Bersama Memulihkan Perekonomian Regional melalui Kawasan Berikat” acara ini dihadiri Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai di wilayah kerja Kanwil DJBC Kalbagsel.
Kawasan Berikat adalah tempat menimbun barang impor dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean guna diolah atau digabungkan yang hasilnya untuk diekspor.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalbagsel, Ronny Rosfyandi menyampaikan apresiasi kepada perusahaan penerima fasilitas kawasan Berikat atas pencapaian kerja sama di tahun 2022.
Dia menjelaskan
latar belakang pengambilan tema ini adalah adanya kontribusi dari kawasan Berikat terhadap perekonomian nasional dan perekonomian regional pada khususnya.
Selain itu diadakannya acara ini bertujuan untuk menyampaikan mengenai kawasan Berikat dan meningkatkan komunikasi dan kemitraan dengan stakeholder penerima fasilitas yang selama ini sudah terjalin dengan baik.
“Jadi kawasan Berikat merupakan insentif fiskal yang diberikan oleh pemerintah di bidang kepabeanan dan perpajakan yang tujuannya adalah dalam rangka meningkatkan investasi dan mendorong peningkatan ekspor,” jelasnya.
Di wilayah Kalselteng, perusahaan penerima fasilitas kawasan Berikat pada umumnya mempunyai bidang usaha berupa Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya.
Antara lain PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk., PT Sinar Jaya Inti Mulya, PT Citra Borneo Utama, PT Sime Darby Oils Pulau Laut Refinery, dan PT Sukajadi Sawit Mekar.
“Pencapaian perusahaan penerima kawasan Berikat di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah cukup luar biasa di tengah pemulihan ekonomi akibat Covid-19,” sebutnya.
Hal ini bisa dilihat dari dampak pemberian insentif fiskal melalui kawasan Berikat diantaranya berupa penerimaan bea keluar dari ekspor produk CPO dan turunannya.
Devisa hasil ekspor atas perusahaan penerima fasilitas menunjukkan trend yang positif mengalami kenaikan yoy sebesar 0.17% setelah pulihnya perekonomian pasca Covid-19. Selain itu dari penyerapan tenaga kerja juga terdapat peningkatan yoy sebesar 1.3% di mana ini menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi yang dapat berdampak pada PPh orang pribadi maupun badan.
“Saya berharap akan semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan fasilitas kawasan Berikat ini untuk dapat meningkatkan hasil produksi dan daya saingnya dengan melakukan ekspor sehingga pemberian insentif fiskal berupa kawasan Berikat ini benar-benar dapat menjadi salah satu instrumen untuk pemulihan perekonomian baik regional maupun nasional,” pungkasnya.






