Barito Kuala,
– Banjir merendam wilayah Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola) selama sepekan terakhir. Menyikapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Batola, Gunawan, bersama Pelaksana Tugas (Plt) Camat Jejangkit dan Kepala Desa Jejangkit Muara meninjau langsung lokasi banjir, Rabu (7/1/2026).
Banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Jejangkit merupakan banjir kiriman dari Kabupaten Banjar yang diperparah dengan pasangnya Sungai Barito. Akibatnya, genangan air belum surut dan aktivitas masyarakat terganggu.
Dalam peninjauan tersebut, Gunawan melihat langsung kondisi permukiman warga, akses jalan, serta lahan pertanian yang terendam. Ia menyampaikan keprihatinannya atas banjir yang hampir terjadi setiap tahun di wilayah tersebut.
“Banjir di Kecamatan Jejangkit hampir setiap tahun terjadi sejak 2021. Bahkan, genangan air bisa bertahan hingga dua sampai tiga bulan sebelum surut dan sangat berdampak pada kehidupan warga,” kata Gunawan.
Menurutnya, salah satu penyebab banjir adalah sistem tata kelola saluran air yang tidak mampu menampung debit air dalam jumlah besar. Ia mendorong pemerintah daerah hingga pemerintah pusat untuk melakukan penanganan jangka panjang.
“Perlu adanya perhatian serius, khususnya pembangunan saluran air yang terhubung langsung ke Sungai Barito agar risiko banjir di Kecamatan Jejangkit, Mandastana, dan Alalak dapat diminimalkan,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Camat Jejangkit, Hardian, mengatakan banjir melanda tujuh desa di wilayahnya. Tercatat sebanyak 2.192 kepala keluarga atau 6.764 jiwa terdampak.
“Tujuh desa yang terdampak banjir meliputi Desa Jejangkit Timur, Jejangkit Barat, Jejangkit Pasar, Jejangkit Muara, Sampurna, Bahandang, dan Desa Cahaya Baru,” jelas Hardian.
Ia menambahkan, tiga desa mengalami dampak paling parah, yakni Desa Bahandang, Desa Sampurna, dan Desa Jejangkit Muara.
Kepala Desa Jejangkit Muara, Jamhari, menyebut banjir mulai merendam wilayahnya sejak sepekan terakhir. Di desa tersebut terdapat 431 kepala keluarga atau 1.413 jiwa yang terdampak.
“Meski tidak hujan, debit air terus meningkat. Saat ini akses jalan terendam setinggi 30 hingga 60 sentimeter, sementara air di dalam rumah warga berkisar antara 20 hingga 40 sentimeter,” kata Jamhari.
Hingga kini, genangan air masih cukup tinggi di beberapa titik, terutama di daerah rendah dan bantaran sungai. Warga berharap adanya penanganan cepat agar aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari dapat kembali berjalan normal.
Namun, hingga saat ini warga terdampak banjir mengaku belum menerima bantuan, baik dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi.






