Banjarmasin,wartaberitaindonesia.com – Dosen senior Uniska MAB Banjarmasin, Prof Uhaib As’ad mengaku sudah saatnya kepemimpinan Uniska berbenah demi kemaslahatan dan kemajuan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbesar di Kalimantan.
Hal ini bukan tanpa alasan menyikapi persoalan polemik pemilihan rektor Uniska diawal tahun mendatang maka hal yang menjadi atensi penting adalah regenerasi kepemimpinan sehingga ada penyegaran ke depan.
“Saya tidak ada kepentingan hanya saja keinginan Uniska bisa menjadi PTS terdepan dan terbaik,” katanya, Senin (23/9) di Banjarmasin.
Prof Uhaib menegaskan, sosok pemimpin itu tidak selalu berada dalam ruangan seperti seorang kepala dinas bahkan sekedar bertemu saja sulit.
Perlu dipahami filosofi itu harus segera bergeser hilangkan pandangan rektor “karatan” di lingkungan Uniska, sudah saatnya di tahun depan orang nomor satu di Uniska harus orang muda, energik, cerdas dan ramah serta populer di kalangan mahasiswa.
Ini harus diorbitkan terlebih perannya mengangkat citra di khalayak publik serta kolaborasi dengan mitra wartawan bahkan sesuai usia tidak boleh lebih dari 60 tahun.
“Kami tidak ingin politik kotak kosong justru terjadi di Uniska,” ungkapnya
Dia pun berharap rektor baru itu tidak perlu bergelar profesor cukup bergelar doktor termasuk memiliki integritas serta pengetahuan global tidak terkotak di lingkungan Banjarmasin saja.
“Kemudian bersihkan politik oligarki di Uniska jangan membatasi sosok dosen muda yang memiliki potensi memajukan perguruan tinggi,” sarannya.
Prof Uhaib menyebutkan
tiga orang yang patut dipertimbangkan sebagai sosok rektor baru di tahun 2025 mendatang, diantaranya Dr Afif Khalif, Dr Zailani dan Prof Nurul Listiani.
“Kami berharap yayasan bisa memfasilitasi debat kandidat siapa calon rektor ke depan, di sini akan terlihat kualitas intelektual, pengetahuan global serta ketebalan otak pemimpin selanjutnya,” ucapnya.
“Ini hanya contoh sosok yang jelas memiliki visi dan misi jelas ke depan,” pungkasnya.






