Komisi III DPRD Batola Studi Komparatif SIPET KALOKA di Kapuas

Feks foto: Jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah saat menerima kunjungan Komisi III DPRD Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan bertempat di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, di Kuala Kapuas, Jumat (7/2). (Ist)

Kuala Kapuas, wartaberitaindonesia.com – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan melakukan kujunganan ke Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (7/2).

Kunjungan ini dilakukan dalam rangka studi komparatif terhadap kebijakan Strategi Peningkatan Produksi Padi yang Berkualitas dan Berkearifan Lokal (SIPET KALOKA), sebuah inovasi yang digagas oleh Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas untuk meningkatkan produksi padi.

Bacaan Lainnya

Kehadiran anggota DPRD Batola ini menunjukkan komitmen untuk mempelajari kebijakan yang telah berhasil diterapkan di Kapuas.

Selama kunjungan, pimpinan dan anggota Komisi III DPRD Kabupaten Batola menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inovasi SIPET KALOKA.

Kebijakan ini dinilai efektif dalam meningkatkan produksi padi dengan tetap mengedepankan aspek sosial dan budaya bercocok tanam yang khas di Kabupaten Kapuas.

Hal ini sejalan dengan visi pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal. Dengan adanya kesamaan budaya, tipologi lahan, dan kebiasaan petani antara Batola dan Kapuas, diharapkan kebijakan ini dapat diadopsi dan diimplementasikan di Batola.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Yaya, SP, menyambut langsung rombongan dari Barito Kuala. Dalam sambutannya, Yaya menjelaskan bahwa SIPET KALOKA tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pelestarian budaya dan kearifan lokal dalam bercocok tanam.

Ia berharap kolaborasi antara kedua kabupaten dapat memperkuat sektor pertanian di Kalimantan, khususnya dalam menghadapi tantangan global di bidang pangan. Batola yang dikenal sebagai lumbung padi di Kalimantan Selatan, diharapkan dapat mengambil manfaat dari kebijakan ini untuk semakin meningkatkan produktivitas pertaniannya.

Studi komparatif ini menjadi langkah awal yang positif dalam membangun sinergi antar-daerah untuk mencapai ketahanan pangan. Dengan adanya pertukaran pengetahuan dan pengalaman, diharapkan inovasi seperti SIPET KALOKA dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia.

Kolaborasi semacam ini tidak hanya memperkuat sektor pertanian, tetapi juga mempererat hubungan antar-wilayah dalam upaya bersama mewujudkan kemandirian pangan nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *