Tekan Inflasi, dorong sektor Pertanian

Waket Komisi II DPRD Kalsel, Muhammad Yani Helmi saat reses di Kecamatan Kusan Hilir dan Tengah, Minggu (5/2). (ist)

Tanah Bumbu, wartaberitaindonesia.com – Puluhan hektare lahan persawahan belum tergarap dengan baik. Hal ini tentu menambah sulitnya menekan inflasi beras lokal yang terus merangkak naik.

“Kondisi ini jangan sampai dibiarkan berlarut larut,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kalsel, Muhammad Yani Helmi kepada wartaberitaindonesia.com usai reses di Kecamatan Kusan Hilir dan Tengah, Kabupaten Tanah Bumbu Minggu (5/2).

Bacaan Lainnya

Dia menyebutkan, 75 persen penduduk di Desa Api-Api Kecamatan Kusan Tengah berprofesi sebagai petani, sisanya 25 persen masih berkebun dan 5 persen nelayan.

Oleh karena itu sektor pertanian harus di dorong khususnya di Kecamatan Kusan Hilir dan Tengah sebagai penghasil beras.

“Ini perlu diatasi mengingat harga beras dibeberapa daerah mengalami kenaikan secara drastis, ” ungkapnya.

Selain Tanah Bumbu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel yang mengalami inflasi beras selain Kabupaten Tabalong dan Kotabaru, tak terkecuali Kota Banjarmasin.

“Dimana harga beras jenis mayang tembus Rp16 ribu per liter, Bahkan, pedagang berani menaikan hingga Rp18 ribu terlebih permintaan beras lokal tetap menjadi primadona,” ujarnya.

“Agar impor beras tidak terjadi, karena bagaimana pun beras Banjar (lokal) tetap nomor satu serta enak dikonsumsi,” tambahnya.

Disinilah menurutnya, perlunya Dinas Pertanian untuk melakukan pengendalian ini, diantara upaya yang dilakukan, yakni jika ada para petani ingin jalan usaha tani dan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) sesuai dengan keuangan daerah harus disupport.

Jika ada musrenbang dirinya siap dilibatkan agar aspirasi yang disampaikan bisa terealisasi, karena komoditi beras ini sangat penting sebagai pemenuhan pokok utama masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Api-Api, Husnul Huluki menyampaikan berbagai upaya terus dilakukan agar di desanya tetap surplus.

“Kami berharap beras kami tak hanya dijual di pasar tradisional melainkan bisa masuk retail modern. Jangan hanya beras luar saja tetapi khas lokal diutamakan,” ujarnya.

Di luar itu untuk aliran drainase persawahan mulai tertata dengan baik termasuk persoalan serangan tungro.

“Apabila berhasil perekonomian warga berjalan baik dan padi kami pun dapat meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *