Banjarbaru, wartaberitaindonesia.com – Kelompok usaha bersama (Pokmas) Barokah Jaya Mandiri di Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, adalah sebuah kelompok masyarakat dalam usaha budidaya ikan lele.
Pokmas ini memiliki 20 anggota dengan Ketua H. Hamdi Rahman, Sekretaris M. Lahmudin, Bendahara Rinto, Penanggung Jawab Umbar Supriyadi yang saat ini mengalami kendala terkait harga pakan pellet yang tinggi sehingga kurang dapat menutupi biaya operasional yang dikeluarkan. Masalah pakan ini pun banyak dialami oleh para pembudidaya ikan di berbagai daerah.
Untuk mengatasi adanya permasalahan tersebut Tim Universitas Sari Mulia (UNISM) Banjarmasin yang diketuai oleh apt. Kunti Nastiti M.Sc, beranggotakan apt Rahmadani, M.Farm dan Nadia Novianty S.E., M.S.A mengusulkan kegiatan Pengabdian Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat melalui dana hibah dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Pendanaan 2024.
Kegiatan pengabdian ini memberikan pelatihan untuk memproduksi pakan alternatif dengan cara budidaya Maggot kepada mitra Pokmas Barokah Jaya Mandiri. Program ini juga melibatkan mahasiswa UNISM Jurusan Farmasi dan mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi.
Pelibatan mahasiswa ini sebagai bentuk terwujudnya kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yaitu melakukan kegiatan pembelajaran di luar kampus dengan menerapkan ilmu yang didapatkan di perkuliahan ke masyarakat, dan mendapatkan pengalaman belajar secara langsung baik secara mental dan fisik dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.
Pakan alternatif yang berasal dari budidaya Maggot merupakan salah satu cara dalam menekan penggunaan pakan pellet yang mahal. Maggot merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) dari spesies Hermetia illucens. Kelebihan dari larva lalat ini adalah bukan sebagai vector atau pembawa penyakit ke manusia. Larva ini mempunyai nutrisi yang lengkap dengan kandungan protein yang tinggi sehingga sangat baik untuk pakan ikan.
Selain itu, budidaya Maggot dapat dilakukan dengan waktu yang singkat dan berkelanjutan dengan jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan. Siklus Maggot dari telur ke lalat BSF lalu bertelur kembali membutuhkan waktu 38-42 hari.
Proses budidayanya juga mudah dan sederhana, terdapat teknik yang digunakan untuk meningkatkan kualitas larva, yaitu dengan teknik fermentasi pakan Maggot. Hasil akhirnya Maggot yang dibudidayakan lebih gemuk, lincah dan pertumbuhannya lincah.
Kandungan gizi pakan ikan yang tinggi akan meningkatkan kandungan gizi pada ikan. Daya tahan tubuh ikan menjadi kuat, tidak mudah terserang penyakit, dan ikan yang dipanenpun mempunyai gizi tinggi. Ikan dengan gizi yang tinggi mempunyai cita rasa yang berbeda yaitu lebih enak, ukuran lebih besar dan lebih gurih.
Selain pelatihan budidaya Maggot, mitra juga diajarkan manajemen stok agar Maggot dapat secara berkelanjutan digunakan sebagai pakan ikan. Penggunaan pakan yang tadinya pellet 100% menjadi pellet 50% dan Maggot 50% sehingga dapat menghemat biaya pakan separonya.
Pencatatan keuangan juga tak kalah pentingnya untuk mengetahui perhitungan untung ruginya serta log book kegiatan guna merencanakan pembibitan Maggot sehingga dapat kontinyu digunakan sebagai pakan.
Mitra juga dibekali cara pengolahan Maggot kering apabila terjadi kelebihan stok. Maggot dikeringkan menggunakan oven dengan suhu terkontrol sehingga tidak merusak nutrisi Maggot yang dikandungnya dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Melalui kegiatan ini diharapkan Pokmas Barokah Jaya Mandiri dapat memproduksi pakan secara mandiri sebagai pakan komplementer selain pakan pelet, penggunaan pakan menjadi lebih hemat, pengeluaran dapat ditekan dan adanya produk pakan yang dapat dikomersialkan.






