Banjarmasin, wartaberitaindonesia.com– DPRD Kota Banjarmasin menggelar rapat paripurna tingkat I perihal penyampaian Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2022, Rabu (21/6/2023).
Rapat Paripurna dihadiri Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, serta tiga Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin, yaitu Matnor Ali, M Yamin serta Tugiatno.
Dalam laporannya, Wali Kota Banjarmasin menyampaikan realisasi pendapatan daerah tahun 2022 tercapai 97,85 persen atau Rp1,987 triliun lebih. Kemudian belanja terealisasi 90,82 persen atau Rp2,016 triliun lebih.
Kemudian pembiayaan terealisasi 100 persen atau sebesar Rp188 miliar lebih. Untuk Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) pada APBD 2022 yang dihasilkan dari realisasi pendapatan dikurangi belanja ditambah pembiayaan terealisasi Rp160 miliar.
Dalam upaya mencapai hasil yang ditargetkan itu kata Ibnu, tidak sedikit hambatan dan kendala yang dihadapi. Namun hal ini yakinnya, tidak menyurutkan langkah untuk terus melakukan perbaikan dalam proses, prosedur dan kebijakan hingga dapat mencapai hasil yang lebih optimal.
Ibnu menambahkan, Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Banjarmasin Tahun Anggaran 2022 merupakan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Pemerintahan, Pembangunan, dan Pelayanan Masyarakat dalam kurun waktu 1 (satu) Tahun Anggaran.
Pemerintah Kota Banjarmasin berharap, kepada anggota dewan untuk membahas dan memproses sesuai dengan Peraturan yang berlaku.
“Sehingga mendapat Persetujuan dari DPRD sebagai bahan evaluasi Gubernur Kalsel yang pada akhirnya dapat ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda),” paparnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Banjarmasin Matnor Ali menyampaikan, pelaksanaan APBD tahun 2022 yang mendapat predikat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk ke-10 kalinya mendapat apresiasi dari lembaga legislatif.
Terutama kata Matnor, Pemko Banjarmasin telah mampu menekan angka Silpa hingga Rp160 Miliar pada tahun 2022.
“Meskipun masih ada Silpa namun angka tersebut sudah cukup baik karena kurang atau 200, itu masuk angka stabil atau artinya terjadi efisiensi,” tandasnya.






