Banjarmasin,
wartaberitaindonesia.com – Persoalan sampah kembali menjadi sorotan tajam dalam reses Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin, H. Harry Wijaya, pada Masa Sidang I Tahun 2026. Isu klasik ini mencuat setelah masyarakat menilai penanganan sampah di Kota Seribu Sungai belum menunjukkan penyelesaian konkret.
Dalam forum tersebut, warga secara kritis mempertanyakan langkah Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin dalam mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomis. Salah satu warga mengusulkan agar sampah dikonversi menjadi energi, seperti listrik atau gas rumah tangga, sehingga tidak sekadar menjadi tumpukan masalah.
“Kenapa sampah tidak dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai? Bisa jadi listrik atau gas. Ini adalah peluang, bukan hanya masalah,” ujar salah satu peserta reses yang berlangsung di kawasan Jalan A. Yani KM 5,7, RT 24, Kelurahan Pemurus Luar, Banjarmasin Timur.
Menanggapi tuntutan tersebut, H. Harry Wijaya menegaskan bahwa Pemko Banjarmasin tengah menyiapkan langkah strategis melalui program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Proyek ini diproyeksikan menjadi jawaban jangka panjang atas krisis pengelolaan sampah di Banjarmasin.
Namun, Harry menjelaskan bahwa operasional PSEL memerlukan pasokan sampah minimal 500 ton per hari. Sementara itu, produksi sampah harian Banjarmasin saat ini baru menyentuh angka 491 ton.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, Pemko Banjarmasin di bawah kepemimpinan Wali Kota HM Yamin HR telah menjalin kerja sama dengan Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala.
“Program ini membutuhkan pasokan besar agar berjalan optimal. Karena volume sampah kita belum mencukupi syarat minimal, kami melibatkan daerah tetangga untuk menyuplai bahan baku,” jelas Harry.
Selain memastikan pasokan, Harry mengungkapkan pemerintah kota saat ini sedang mematangkan kesiapan infrastruktur dan lahan. Proyek strategis ini rencananya akan mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
Meski rencana ini memberikan harapan baru, masyarakat tetap mendesak agar program PSEL tidak sekadar menjadi wacana. Akselerasi realisasi sangat diharapkan, mengingat persoalan sampah berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan dan kesehatan warga Banjarmasin.






