Tuberkulosis Terus Meningkat Di Banjarmasin Serang Semua Usia

Pemerhati dan analisis kesehatan Universitas Cahaya Bangsa, Dr H. Ahmad Murjani Mkes, SH, MH

Banjarmasin, wartaberitaindonesia.com – Angka kematian usia produktif akibat penyakit Tuberkulosis (TB) Paru di Banjarmasin
menunjukkan terverifikasi 3% kematiannya dari jumlah 1.959 jiwa. Artinya ini baru usia produktif, lantas bagaimana dengan usia anak maupun lansia, hal ini harus menjadi atensi dan perhatian bersama tidak saja Pemerintah melalui tim kesehatannya akan tetapi penerapan edukasi harus di sosialisasikan dengan gencar semua bisa dioptimalkan memanfaatkan kecanggihan teknologi selain memaksimalkan fungsi ditingkat Rt,

“Terlepas angka 3% kematian usia produktif termasuk tinggi atau sebaliknya, tetap harus menjadi perhatian serius, ” Kata Pemerhati dan analisis kesehatan Universitas Cahaya Bangsa, Dr H. Ahmad Murjani Mkes, SH, MH kepada Wartaberitaindonesia com
Minggu (19/3)

Bacaan Lainnya

Ia menambahkan mengapa TB ini diharapkan adanya perhatian serius sebab selain penyakit menyerang paru paru ini menular dengan cepat yang tak kalah pentingnya adalah peningkatan bagi penderitanya yakni angka pengobatannya sejak tahun 2020 (25 % ), tahun 2021(31%) dan tahun 2022 (59%). Kemudian untuk temuan kasus terduga TB di kota banjarmasin tahun 2020 5413 jiwa (41%), 2021 8.515 jiwa (58 %), 2022 12.477 jiwa (81%)

“Melihat angka diatas jelas petugas penyuluh lapangan puskesmas beserta timnya mampu bekerja dengan baik terbukti promkesnya berhasil tinggal konsistensi pengawasan pengobatan kepada setiap pasien, ” tambah pria ramah ini

Lanjut ketua YLKI Kalsel ini, publikasi ke setiap media harus dilakukan dinas kesehatan Kota Banjarmasin terkait target angka TB yang di tetapkan Dinas kesehatan kota banjarmasin? berapa persen capaian dari jumlah penduduk ? apakah sudah mencapai target atau belum, hal ini harus di sesuaikan dengan target nasional. Selain itu pemerhati kebijakan publik ini, berharap program TB di Banjarmasin harus konkrit lebih mudah penanganannya misalnya bagaimana pendampingan minum obat pasien berjalan teratur atau tidak, imunusasinya, stunting cakupan gizinya bagi anak, bagaimana rujukannya, bagaimana epidemiologinya dan lain lainya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *