Fakultas MIPA ULM Kembangkan Prototipe Deteksi Dini Banjir Berbasis IoT

Teks foto: Uji coba alat sensor deteksi banjir di sungai tempat lokasi banjir. (istimewa)

Banjarmasin, wartaberitaindonesia.com – Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di berbagai belahan dunia. Penyebab utama banjir adalah curah hujan yang tinggi, mencairnya gletser di pegunungan, naiknya permukaan sungai, dan penggundulan hutan yang berlebihan. Banjir dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar, seperti kerusakan infrastruktur, kerugian ekonomi, serta hilangnya nyawa manusia dan hewan.

Intensitas hujan yang deras menyebabkan jumlah air di sungai meningkat hingga meluap di beberapa daerah. Banjir terbesar di Banjarbaru salah satunya terjadi pada awal Januari 2021, dimana banjir terjadi  di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan khususnya di Banjarbaru.

Bacaan Lainnya

Salah satu kawasan yang terdampak banjir adalah Komplek Graha Permata Indah 9 yang terletak di Guntung Payung, Banjarbaru. Komplek Graha Permata Indah 9  merupakan komplek perumahan dengan jumlah rumah sekitar 120 unit. Banjir yang pada Januari 2021 tersebut terjadi pada tengah malam secara cepat.

Akibat kejadian banjir tersebut, banyak warga tidak siap kemudian mengungsi tanpa memikirkan harta benda yang ada di rumah mereka. Mereka mendapati bahwa banyak sekali barang elektronik dan isi rumah mereka yang rusak akibat dari banjir tersebut sehingga mengalami kerugian yang tidak sedikit jumlahnya.

Tidak hanya pada Januari 2021, sering kali di komplek Graha Permata Indah 9 terjadi banjir karena intensitas hujan yang tinggi dalam waktu beberapa jam saja. Kejadian ini membuat warga di kompleks tidak bisa tidur nyenyak jika terjadi hujan deras. Banjir terakhir  terjadi  pada Maret 2023, ketika ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Deteksi dini banjir berbasis IoT (Internet of Things) bisa menjadi solusi. Dalam penerapan deteksi dini banjir berbasis IoT, berbagai sensor telah dikembangkan. Salah satu sensor yang digunakan adalah sensor gelombang.
Sensor yang digunakan yaitu sensor gelombang ultrasonik. Sensor ini bekerja dengan cara memantulkan gelombang ke permukaan tanah kemudian memperkirakan ketinggian air.

Adanya sensor ini yang diintegrasikan dengan perangkat mikrokontroler Arduino Nano, bisa mendeteksi ketinggian air sehingga pada ketinggian air tertentu bisa memberitahu adanya kemungkinan banjir.
Prototipe alat pendeteksi banjir ini dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Adapun tim yang terlibat adalah Irwan Budiman, S.T., M.Kom. Muhammad Itqan Mazdadi, M.Kom., Triando H. Saragih, M.Kom., dan beberapa mahasiswa. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *