Banjarmasin, wartaberitaindonesia.com– Akar Pasak Bumi merupakan salah satu tumbuhan obat endemik Kalimantan. Akar pasak bumi popular digunakan sebagai afrodisiaka atau obat kuat. Salah satu senyawa aktif yang terkandung adalah Eurycumanone.
Mengangkat hal tersebut peneliti Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang terdiri atas Dr. rer. nat. Liling Triyasmono, M.Sc., apt. Mia Fitriana, M.Si., dan apt. Muhammad Ikhwan Rizki, M.Farm. berhasil mendapatkan hibah dari Kemendikbudristek untuk pengembangan prototipe eurycumanon sampai tingkat hilirisasi.
Ketua tim peneliti, Liling Triyasmono yang juga merupakan dosen Program Studi Farmasi ULM mengatakan senyawa marker digunakan sebagai pembanding pada saat dilakukan pengujian mutu untuk standarisasi ekstrak akar pasak bumi yang berkhasiat sebagai afrodisiaka dan antikanker.
“Target pasar produk prototipe eurycumanone mencakup pasar nasional dan internasional dengan kelebihannya harga yang lebih terjangkau. Peneliti dari berbagai perguruan tinggi bidang science, dan lembaga penelitian di Indonesia yakin bahwa populasi pengguna produk sangatlah besar yang diantaranya adalah industri obat tradisional, industri ekstrak bahan alam,” terangnya.
Sementara Mia Fitriana mengharapkan
ketergantungan terhadap senyawa marker dari luar negeri akan berkurang karena populasi pengguna akan lebih tertarik terhadap Eurycumanone dengan harga terjangkau, kualitas tinggi, dan berasal dari dalam negeri.
Disebutkan selain tim yang terdiri dari tiga orang tersebut, pengembangan juga dibantu oleh dosen bidang Farmakologi ULM yakni apt. Satrio Wibowo R., M.Sc., dan apt. Aditya Maulana P.P., M.Sc. Mereka mendukung uji toksisitas dari produk reference standar eurycomanon yang dihasilkan.
“Hal ini dilakukan agar didapatkan data yang lebih komprehensif sehingga marker yang nanti dipasarkan benar-benar memiliki data yang lengkap, berkualitas dan aman serta dapat bersaing dengan produk sejenis dari luar negeri maupun dalam negeri,” pungkasnya.






