Petani Jeruk Sulit Jual Hasil Panen ke Perusahaan Pengolahan, DPRD Kalsel Minta Pemda Fasilitasi Akses Pasar

Teks foto : Anggota Komisi II DPRD Kalsel Fraksi PKS, H. Taufik Rahman. (Ist)

Banjarmasin,wartaberitaindonesia.com – Melimpahnya produksi jeruk di Kalimantan Selatan (Kalsel) setiap tahun ternyata menjadi masalah tersendiri bagi petani. Alih-alih mendatangkan keuntungan besar, hasil panen yang berlimpah kerap sulit dipasarkan terutama ke perusahaan pengolahan minuman bermerek, memaksa petani menjual murah ke perantara lokal.

Anggota Komisi II DPRD Kalsel Fraksi PKS, H. Taufik Rahman menilai perlu ada upaya nyata dan fasilitasi dari pemerintah daerah (Pemda) untuk membantu petani menghadapi persoalan klasik ini. Salah satu langkah penting adalah membangun jaringan komunikasi langsung dengan pengusaha industri minuman yang membutuhkan pasokan jeruk dalam jumlah besar.

Bacaan Lainnya

“Jeruk kita melimpah setiap tahun, tapi petani menjerit karena tidak tahu ke mana harus dijual dengan harga baik. Pemerintah daerah perlu turun tangan memfasilitasi jaringan ke perusahaan,” ujar H. Taufik, Jumat (5/7).

Menurutnya, beberapa faktor utama menjadi penghambat penjualan jeruk Kalsel ke perusahaan pengolahan. Petani kerap tidak memiliki informasi pasar yang tepat atau perusahaan mana yang membutuhkan jeruk sesuai spesifikasi tertentu. Jaringan pemasaran juga masih terbatas pada pedagang lokal, membuat harga jual kerap jatuh.

Selain itu, kualitas jeruk yang dihasilkan belum selalu memenuhi standar industri, misalnya terkait ukuran buah, tingkat kematangan, atau keasaman. Masalah distribusi pun menjadi kendala lain, karena jarak pengiriman yang jauh atau fasilitas transportasi yang belum memadai menambah ongkos produksi.

H. Taufik menilai perlu langkah-langkah konkret untuk membantu petani keluar dari masalah tersebut. Ia mendorong pemerintah daerah, melalui Dinas Pertanian, memberikan pelatihan teknis dan mendampingi petani meningkatkan kualitas produksi. Ini bisa dilakukan melalui pemilihan bibit unggul, penerapan praktik pertanian baik (Good Agricultural Practices/GAP), serta proses sortasi dan grading buah sesuai standar industri.

“Harus ada pendampingan agar petani tahu perusahaan mana yang bisa menerima hasil panen mereka. Mereka juga perlu diajari cara memanfaatkan internet dan teknologi untuk memperluas pasar,” imbuhnya.

Bergabung dalam koperasi atau kelompok tani dinilai bisa menjadi solusi untuk memperkuat posisi tawar petani di hadapan pembeli. Pemerintah juga didorong memberikan fasilitas permodalan atau subsidi agar petani bisa memperluas lahan, meningkatkan kapasitas produksi, atau bahkan mengembangkan produk olahan berbasis jeruk untuk menambah nilai jual.
Dengan langkah-langkah tersebut, H. Taufik berharap persoalan klasik surplus jeruk yang tak terserap pasar bisa diatasi.

“Kalau pemerintah daerah serius, ini sebenarnya bisa jadi potensi ekonomi yang besar bagi Kalsel. Yang penting kita mau bantu petani keluar dari kebuntuan,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *